Diduga Perkara Jaga Malam, Mantan GAM Ditangkap
Kamis, 20 Februari 2009 11:55
ACEH UTARA--Mantan representatif GAM pada kantor AMM Perwakilan Lhokseumawe dan Aceh Utara, Sabri Ismail diciduk petugas dari Polres Lhokseumawe saat berada di kantor Green Plant NGO, di Krueng Mane, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara, Kamis (19/2). Penangkapan tersebut diduga terkait perkara jaga malam.
Sejumlah warga setempat menyebutkan, Sabri Ismail diciduk oleh empat personel Polres Lhokseumawe yang memakai rompi antipeluru dan bersenjata lengkap. “Polisi itu ada yang berseragam dinas dan ada juga yang berpakaian preman. Mereka datang dengan mobil kijang abu-abu BL 644 NC. Kabarnya Tgk Sabri ditangkap karena terkait masalah jaga malam,” kata warga yang minta namanya dirahasiakan.
Saat polisi masuk ke kantor Green Plant NGO itu, kata dia, Sabri Ismail sedang mengetik di laptopnya. Selain Sabri, di kantor tersebut juga ada Saiful alias Pon dan Hasyem. “Polisi menanyakan, ‘yang mana Tgk Sabri’. Tidak ada yang menjawab. Saat keadaan sudah agak panas, baru ada yang mau tunjuk ke arah Tgk Sabri. Lalu, Tgk Sabri mengeluarkan dompetnya dan memberikan kepada adik iparnya, Hasyem. Tapi kemudian diambil oleh polisi yang langsung membawa Tgk Sabri,” kata dia.
Sejak perdamaian Aceh terwujud, lanjut dia, Sabri Ismail aktif di Green Plant, NGO yang bergerak di bidang pendataan warga cacat dan korban konflik.
Sementara Kapolres Lhokseumawe AKBP Zulkifli mengatakan Sabri Ismail ditangkap di kantor KPA Sago Ie Rob Muara Batu. “Mantan GAM itu kami tangkap karena melarang kepala desa dan warga menghidupkan pos siskamling di desanya, Keude Mane,” sebut Kapolres.
Zulkifli menjelaskan, pada hari Minggu (12/2) lalu, Geuchik Keude Mane Kecamatan Muara Batu mengumpulkan masyarakat di meunasah setempat untuk rapat menyangkut pelaksanaan ronda malam atau siskamling guna menindaklanjuti program Polres Lhokseumawe dan instruksi Bupati Aceh Utara. “Selesai rapat, salah seorang warga yang bernama Sabri Ismail mengambil pengeras suara dan mengatakan dia tidak mau siskamling karena bertentangan dengan MoU Helsinki. Dia juga mengancam aparat desa, ‘bila ada yang siskamling resiko ditanggung sendiri’,” papar Kapolres.
Menurut dia, Sabri Ismail bisa dijerat dengan pasal tentang pengancaman. “Kita tidak akan mentolelir setiap kejahatan yang dilakukan oleh siapa pun, supaya pelaksanaan Pemilu 2009 berjalan aman dan tertib. Pos siskamling itu kan untuk menjaga keamanan di desa-desa, kenapa malah dilarang,” tandas Kapolres Zulkifli.(HARIAN ACEH)
Jumat, 20 Februari 2009
Minggu, 15 Februari 2009
Ketua Partai Aceh Tewas Ditembak
Ketua Partai Aceh Tewas Ditembak
Jum'at, 13 Februari 2009 | 06:03 WIB
TEMPO Interaktif, Aceh Barat: Taufiq Ketua Partai Aceh untuk wilayah Ujung Kalak, Johan Pahlawan, Meulaboh, Aceh Barat, Nanggroe Aceh Darussalam, tewas ditembak tak dikenal.
”Kami sangat khawatir dengan situasi keamanan di Aceh, yang semakin hari kian keruh,” ujar Ibrahim Bin Syamsuddin, juru bicara Komite Peralihan Aceh, tadi malam.
Menurut Ibrahim, Taufiq ditembak Kamis dinihari di bagian dada dan tewas di lokasi kejadian. Korban dimakamkan di Desa Seuneubok. Sebelumnya, Selasa (3/2), Dedi Novandi Alias Abu Karim yang menjadi Sekretaris Organisasi Komite Peralihan Aceh wilayah Bireuen tewas ditembak di Desa Pulo Kiton, Kecamatan Kota Juang, Bireuen.
Ibrahim berharap polisi bekerja serius mengungkap penambak gelap tersebut. Jangan membiarkan Aceh kembali bersimbah darah. ”Sangat kami harapkan pihak international segera datang ke Aceh, kami rakyat Aceh ingin hidup damai,” ujar Ibrahim.
IMRAN MA
Jum'at, 13 Februari 2009 | 06:03 WIB
TEMPO Interaktif, Aceh Barat: Taufiq Ketua Partai Aceh untuk wilayah Ujung Kalak, Johan Pahlawan, Meulaboh, Aceh Barat, Nanggroe Aceh Darussalam, tewas ditembak tak dikenal.
”Kami sangat khawatir dengan situasi keamanan di Aceh, yang semakin hari kian keruh,” ujar Ibrahim Bin Syamsuddin, juru bicara Komite Peralihan Aceh, tadi malam.
Menurut Ibrahim, Taufiq ditembak Kamis dinihari di bagian dada dan tewas di lokasi kejadian. Korban dimakamkan di Desa Seuneubok. Sebelumnya, Selasa (3/2), Dedi Novandi Alias Abu Karim yang menjadi Sekretaris Organisasi Komite Peralihan Aceh wilayah Bireuen tewas ditembak di Desa Pulo Kiton, Kecamatan Kota Juang, Bireuen.
Ibrahim berharap polisi bekerja serius mengungkap penambak gelap tersebut. Jangan membiarkan Aceh kembali bersimbah darah. ”Sangat kami harapkan pihak international segera datang ke Aceh, kami rakyat Aceh ingin hidup damai,” ujar Ibrahim.
IMRAN MA
Tiga Anggota KPA Ditembak, Dua Tewas
Tiga Anggota KPA Ditembak, Dua Tewas
“Motif penembakan belum diketahui.”
BANDA ACEH - Peristiwa kekerasan kembali terjadi di bumi Nanggroe Aceh Darussalam. Kendaraan anggota Komite Peralihan Aceh (KPA) ditembaki orang tak dikenal di Desa Kajhu, Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar, kemarin. Satu orang tewas dan satu lagi luka-luka.
Korban tewas adalah Muhammad Nur. Adapun yang terluka adalah Zakaria, yang dirawat di Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin Banda Aceh. Keduanya berasal dari Desa Lampanah Leungah, Kecamatan Selimuem, Aceh Besar. KPA adalah organisasi mantan prajurit tempur Gerakan Aceh Merdeka.
Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 12.00 WIB. Mereka dalam perjalanan dari Krueng Raya menuju Banda Aceh. Sampai di Kajhu, dua orang berboncengan sepeda motor bebek, memepet mereka. Dalam hitungan detik, kendaraan mereka lalu ditembaki dengan pistol.
Setelah itu, pelaku langsung melarikan diri ke jalan desa. Zakaria yang menyetir mobil tertembak di bagian perut, dada, dan lengan kiri. Rekannya, tertembak di dada kiri dan lengan kiri.
Dalam kondisi terluka, Zakaria masih sanggup mengendalikan mobil dan menyetir sampai rumah sakit, sekitar enam kilometer dari tempat kejadian. Di sana ia tahu kawannya telah tewas. "Saya tidak mengenal pelaku penembakan itu," ujarnya.
Sehari sebelumnya, penembakan juga terjadi di Kota Juang, Bireuen. Sekretaris KPA wilayah Bireuen, Dedi Novandi alias Abu Karim, 37 tahun, tewas ditembak ketika hendak turun dari mobil di rumahnya. Ia ditembak di sisi kanan telinga, tepat belakang kepala.
Di lokasi, polisi menemukan satu proyektil dan selongsong peluru jenis senjata genggam. "Kami belum mengetahui motif penembakan karena kami belum pernah menerima laporan korban pernah diteror," kata Wakil Kepala Kepolisian Resor Bireuen Komisaris Armaini.
Alasan serupa juga disampaikan Wakil Kepala Polisi Kota Besar Banda Aceh Ajun Komisaris Besar Cahyo Budi. Namun, Budi berjanji akan mengerahkan jajarannya mengusut kasus ini.
Juru bicara KPA pusat, Ibrahim Syamsuddin, menilai penembakan dilakukan oleh pihak-pihak yang tak ingin Aceh damai dan aman. Sejauh ini, teror itu tak hanya ditujukan kepada fasilitas fisik, tapi juga mengarah ke tokoh dan anggota KPA di berbagai tempat. Ia minta polisi segera menghentikan aksi kelompok ini agar tidak semakin merajalela.
Juru bicara Kepolisian Daerah Aceh, Komisaris Besar Farid Ahmad, mengaku kesulitan mengungkap kasus-kasus kekerasan di Aceh karena minimnya partisipasi masyarakat. ADI WARSIDI | IMRAN MA
“Motif penembakan belum diketahui.”
BANDA ACEH - Peristiwa kekerasan kembali terjadi di bumi Nanggroe Aceh Darussalam. Kendaraan anggota Komite Peralihan Aceh (KPA) ditembaki orang tak dikenal di Desa Kajhu, Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar, kemarin. Satu orang tewas dan satu lagi luka-luka.
Korban tewas adalah Muhammad Nur. Adapun yang terluka adalah Zakaria, yang dirawat di Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin Banda Aceh. Keduanya berasal dari Desa Lampanah Leungah, Kecamatan Selimuem, Aceh Besar. KPA adalah organisasi mantan prajurit tempur Gerakan Aceh Merdeka.
Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 12.00 WIB. Mereka dalam perjalanan dari Krueng Raya menuju Banda Aceh. Sampai di Kajhu, dua orang berboncengan sepeda motor bebek, memepet mereka. Dalam hitungan detik, kendaraan mereka lalu ditembaki dengan pistol.
Setelah itu, pelaku langsung melarikan diri ke jalan desa. Zakaria yang menyetir mobil tertembak di bagian perut, dada, dan lengan kiri. Rekannya, tertembak di dada kiri dan lengan kiri.
Dalam kondisi terluka, Zakaria masih sanggup mengendalikan mobil dan menyetir sampai rumah sakit, sekitar enam kilometer dari tempat kejadian. Di sana ia tahu kawannya telah tewas. "Saya tidak mengenal pelaku penembakan itu," ujarnya.
Sehari sebelumnya, penembakan juga terjadi di Kota Juang, Bireuen. Sekretaris KPA wilayah Bireuen, Dedi Novandi alias Abu Karim, 37 tahun, tewas ditembak ketika hendak turun dari mobil di rumahnya. Ia ditembak di sisi kanan telinga, tepat belakang kepala.
Di lokasi, polisi menemukan satu proyektil dan selongsong peluru jenis senjata genggam. "Kami belum mengetahui motif penembakan karena kami belum pernah menerima laporan korban pernah diteror," kata Wakil Kepala Kepolisian Resor Bireuen Komisaris Armaini.
Alasan serupa juga disampaikan Wakil Kepala Polisi Kota Besar Banda Aceh Ajun Komisaris Besar Cahyo Budi. Namun, Budi berjanji akan mengerahkan jajarannya mengusut kasus ini.
Juru bicara KPA pusat, Ibrahim Syamsuddin, menilai penembakan dilakukan oleh pihak-pihak yang tak ingin Aceh damai dan aman. Sejauh ini, teror itu tak hanya ditujukan kepada fasilitas fisik, tapi juga mengarah ke tokoh dan anggota KPA di berbagai tempat. Ia minta polisi segera menghentikan aksi kelompok ini agar tidak semakin merajalela.
Juru bicara Kepolisian Daerah Aceh, Komisaris Besar Farid Ahmad, mengaku kesulitan mengungkap kasus-kasus kekerasan di Aceh karena minimnya partisipasi masyarakat. ADI WARSIDI | IMRAN MA
Langganan:
Postingan (Atom)